Subclade K menjadi perhatian internasional setelah pertama kali diidentifikasi oleh lembaga kesehatan di Amerika Serikat. Munculnya varian ini di pertengahan tahun 2025 menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara, mengingat luasnya penyebarannya.
Data terbaru menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2025, subclade K sudah mendekati 100 negara, menjadikannya sebagai salah satu varian dengan penyebaran tercepat. Di kawasan Asia, sebanyak lima negara melaporkan kasus pertamanya pada bulan Juli 2025.
WHO menyebutkan bahwa kondisi ini tidak menunjukkan gejala klinis yang lebih parah dibandingkan dengan strain sebelumnya. Direktur Penyakit Menular Kemenkes juga menyatakan bahwa penilaian awal menunjukkan subclade K tidak lebih mematikan daripada varian H3N2 yang lain.
Identifikasi Subclade K dan Dampaknya di Dunia Kesehatan Global
Subclade K sendiri diperkenalkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Agustus 2025. Penemuan ini menandai perubahan signifikan dalam epidemiologi influenza, berpotensi mempengaruhi kebijakan kesehatan global.
Berdasarkan analisis awal, subclade K mengandung mutasi yang bisa menghindari respon kekebalan tertentu. Hal ini menyebabkan tinjauan terhadap vaksin influenza yang ada dan perlu adanya pembaruan untuk menghadapi varian baru ini.
Sejak pengumuman resmi, negara-negara di seluruh dunia meningkatkan pengawasan terhadap virus ini. Pusat kesehatan di berbagai negara melakukan penyesuaian dengan protokol untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.
Penyebaran Subclade K di Asia dan Respons Negara Terkait
Di Asia, negara-negara seperti Tiongkok dan Jepang cepat tanggap terhadap adanya laporan kasus subclade K. Mereka menerapkan langkah-langkah lebih ketat dalam pencegahan dan pengobatan influenza untuk melindungi warganya.
Kebijakan vaksinasi diperkuat dengan menawarkan dosis tambahan bagi kelompok rentan. Hal ini diharapkan mampu memperkuat kekebalan masyarakat terhadap subclade K yang baru muncul ini.
Pemeriksaan dan pemantauan kesehatan di bandara dan pelabuhan juga diperketat. Ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi kasus baru yang mungkin masuk ke negara-negara lain.
Tindak Lanjut dan Upaya Penanganan Influenza A(H3N2) Subclade K
Berdasarkan laporan, hingga akhir Desember 2025, ada 62 kasus yang tercatat di delapan provinsi di Indonesia. Jumlah ini tersebar di beberapa daerah, dengan konsentrasi tertinggi di Jawa Timur dan Jawa Barat.
Kelompok perempuan dan anak-anak menjadi yang paling terdampak dari infeksi ini. Hal ini menandai pentingnya kesadaran masyarakat terhadap gejala influenza dan perlunya perhatian medis segera.
Pemerintah dan institusi kesehatan telah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan segera memeriksakan diri jika merasakan gejala. Kesadaran dan tindakan awal dapat mencegah penularan yang lebih luas.
