Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kehadiran kecerdasan buatan (AI) tidak akan menggantikan peran guru dalam proses pendidikan. Dalam era digital saat ini, meski teknologi kian maju, keberadaan guru tetap esensial bagi pengembangan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan dalam sistem pendidikan.
Pentingnya peran guru tak bisa dipisahkan dari upaya mendidik generasi masa depan yang lebih baik. Menurut Abdul Mu’ti, AI hanyalah alat dan bukan pengganti yang sejati dalam interaksi pembelajaran yang kompleks antara guru dan siswa.
“AI tetap merupakan teknologi yang tidak bisa menyelesaikan segalanya atau menggantikan segalanya,” kata Abdul Mu’ti dalam seminar nasional mengenai AI dan pendidikan. Dalam konteks ini, ia mengajak semua pihak untuk melihat AI sebagai pendukung dan bukan pengganti peran guru.
Pentingnya Peran Guru di Era Digital dan Teknologi Modern
Penyampaian pendidikan yang efektif tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi juga pada kehadiran seorang mentor yang memahami kebutuhan siswa. Guru memiliki kemampuan unik untuk menjalin hubungan interpersonal yang tidak bisa diciptakan oleh AI.
Abdul Mu’ti mengakui bahwa meskipun AI mampu mengolah data dan memberikan informasi dalam waktu singkat, ia tetap tidak dapat mengambil alih pengalaman hidup yang mendasar bagi proses pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa manusia masih berada di garis depan pendidikan.
“AI bisa memberi nasihat dan menjelaskan banyak hal, tetapi AI tidak bertindak dan tidak mengalami,” ujarnya, menyoroti batasan AI dalam pembelajaran. Dengan demikian, kehadiran guru adalah hal yang tidak bisa tergantikan.
Peran AI sebagai Alat Pendukung dalam Pendidikan
AI dapat berfungsi sebagai alat bantu yang bermanfaat dalam meningkatkan efisiensi pengajaran. Misalnya, dengan memanfaatkan teknologi, guru bisa lebih mudah mengakses informasi dan melakukan analisis data untuk memahami kemajuan siswa.
Meskipun AI dapat membantu dalam proses belajar, kontrol penuh tetap berada di tangan manusia. Penguasaan teknologi harus diimbangi dengan sikap kritis agar dapat memilah informasi yang benar dari yang salah.
“Kendalinya tetap berada pada manusia yang mengoperasikan alat tersebut,” kata Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya keterampilan penggunaan AI di kalangan pengajar. Ini menunjukkan bahwa pendidikan tentang teknologi juga sama pentingnya dengan pelajaran akademik lainnya.
Etika dan Keakuratan dalam Penggunaan AI di Dunia Pendidikan
Abdul Mu’ti menilai bahwa etika dalam penggunaan AI adalah hal yang sangat penting. AI mengumpulkan dan menyajikan informasi berdasarkan data yang diunggah, hal ini membuat akurasi sumber data sangat menentukan kualitas informasi yang dihasilkan.
“Jika yang diunggah salah, maka AI juga akan menghasilkan informasi yang salah,” ujarnya. Ini menekankan kebutuhan akan penjaminan kualitas informasi yang tersedia dalam platform digital.
Di sisi lain, penting juga bagi para pendidik untuk memahami batasan AI sehingga mereka dapat menyesuaikan pendekatan pengajaran dengan teknologi ini. Dengan kombinasi manusia dan teknologi, hasil pembelajaran dapat lebih optimal.
Penerapan Pembelajaran AI dan Coding di Sekolah Dasar
Dalam konteks kebijakan pendidikan, Abdul Mu’ti menyebutkan bahwa pembelajaran AI dan coding mulai diperkenalkan di jenjang sekolah dasar, khususnya di kelas V sebagai mata pelajaran pilihan. Ini merupakan langkah awal dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tuntutan zaman.
Penerapan kebijakan ini akan dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan kesiapan para guru dan institusi pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa penyesuaian terhadap kemajuan teknologi harus dilakukan dengan bijaksana, agar tidak mengorbankan kualitas pendidikan.
“Aset manusia dan dimensi kemanusiaan tidak boleh terlepas dalam konteks AI,” pungkasnya, menekankan bahwa teknologi harus berkontribusi untuk pengembangan manusia, bukan sebaliknya.
