Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurizal baru-baru ini mengklarifikasi pernyataannya yang menimbulkan kontroversi. Pernyataan tersebut berkaitan dengan program makan bergizi gratis yang dinilai tidak memerlukan ahli gizi, yang akhirnya menuai banyak kritik dari berbagai kalangan.
Cucun menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud untuk meremehkan profesi ahli gizi. Ia menyampaikan permohonan maaf karena pernyataannya dalam forum terkait mungkin dianggap menyinggung oleh para ahli gizi dan masyarakat.
Lebih lanjut, Cucun mengungkapkan bahwa usulan untuk mengganti istilah ‘ahli gizi’ menjadi ‘tim quality control’ masih sebatas wacana. Menurutnya, perubahan istilah ini perlu dipikirkan dengan matang agar tidak menimbulkan persepsi yang salah di masyarakat.
Pernyataan Kontroversial yang Memicu Kritikan
Pernyataan Cucun di Forum Konsolidasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kabupaten Bandung menjadi sorotan publik. Banyak orang menilai bahwa ide untuk mengganti istilah ‘ahli gizi’ menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap profesi yang sudah ada.
Dalam forum tersebut, Cucun merespons pertanyaan seorang peserta yang mengusulkan rekrutmen non-gizi. Cucun berusaha memisahkan pandangannya tentang peran ahli gizi dalam program makanan bergizi.
Namun, usul tersebut dianggap berisiko. Banyak pihak khawatir bahwa jika perubahan nomenklatur dilakukan, program dapat diserahkan kepada orang-orang tanpa kompetensi yang memadai di bidang gizi.
Langkah Selanjutnya untuk Meningkatkan Kualitas Gizi
Setelah merespons kritik, Cucun mengadakan pertemuan dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) di kompleks parlemen. Pertemuan ini bertujuan untuk menarik perhatian pemerintah agar lebih memprioritaskan peran ahli gizi dalam program tersebut.
Dalam diskusi tersebut, ia menegaskan pentingnya memaksimalkan potensi yang dimiliki ahli gizi. Pendekatan ini diharapkan dapat meminimalisir polemik yang timbul dari pernyataannya sebelumnya.
Pemerintah dan DPR pun sepakat bahwa profesionalisasi di bidang gizi harus tetap diperhatikan. Dengan kolaborasi keduanya, diharapkan program makan bergizi bisa berjalan lebih efektif.
Pentingnya Konsensus Antara Profesi dan Kebijakan
Isu mengenai pengenalan istilah baru dalam program gizi menunjukkan adanya ketegangan antara kebijakan dan profesi di bidang kesehatan. Perdebatan ini harus dapat dirangkum dalam kerangka kerja yang jelas agar semua pihak merasakan manfaatnya.
Kritik terhadap Cucun menunjukkan seberapa penting suara ahli gizi dalam merumuskan kebijakan terkait kesehatan masyarakat. Dalam hal ini, semua pihak perlu dipertimbangkan agar kebijakan tidak hanya efektif, tetapi juga inklusif.
Dengan diskusi yang melibatkan berbagai pihak, diharapkan akan tercapai kesepakatan yang produktif. Hasil dari pertemuan ini bisa menjadi acuan untuk langkah-langkah selanjutnya di bidang gizi yang lebih inklusif dan berkesinambungan.
