Kasus pencabulan yang melibatkan seorang guru di Kabupaten Jombang telah mengguncang masyarakat setempat. Perbuatan ini diungkap setelah adanya laporan dari korban yang berusia 14 tahun dan terjadi dengan modus yang sangat mengkhawatirkan.
Kepolisian menyebut bahwa tindakan tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2024. Pelaku berinisial D diduga memanfaatkan kepercayaan korban untuk melakukan aksinya yang kejam ini.
Pihak kepolisian menjelaskan bahwa pelaku membuat akun media sosial palsu yang mengindikasikan identitas sebagai seorang perempuan untuk mendekati korban. Hal ini menunjukkan bagaimana pelaku memanfaatkan teknologi untuk melakukan kejahatan seksual.
Rincian Kasus Pencabulan yang Menyita Perhatian Publik
Kasus ini terungkap berkat ketekunan korban dan pihak kepolisian yang melakukan penyelidikan menyeluruh. Dari hasil penyelidikan, terungkap bahwa perbuatan pelaku sudah dilakukan secara berulang.
Melalui akun palsunya, D berhasil memperdaya korban hingga terlibat dalam pengiriman video asusila. Dalam situasi yang mengenaskan ini, korban merasa tertekan dan tak berdaya di bawah ancaman pelaku.
Polres Jombang menyatakan bahwa kegiatan pencabulan tersebut terjadi di rumah pelaku dengan pretensi memberikan bantuan akademis. Modus ini menunjukkan bahwa pelaku memanfaatkan posisi dan kepercayaan yang diberikan oleh korban.
Proses Penangkapan Pelaku dan Pengumpulan Bukti
Setelah menerima laporan resmi, pihak kepolisian bertindak cepat untuk menangkap pelaku. D melakukan perbuatan bejatnya setidaknya sebanyak lima kali, dari awal 2024 sampai akhir 2025.
Bukti-bukti yang dikumpulkan oleh penyidik mencakup rekaman video serta percakapan tidak pantas antara pelaku dan korban. Hal ini menjadi faktor penting dalam penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.
Dalam prosesnya, polisi berhasil menyita laptop dan ponsel milik D sebagai barang bukti. Tindakan cepat ini menunjukkan komitmen polisi dalam menangani kasus kekerasan seksual.
Dampak Sosial dan Psikologis kepada Korban dan Masyarakat
Kasus ini tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga mengganggu rasa aman masyarakat. Korban yang masih belia harus menghadapi trauma berat yang ditimbulkan akibat tindakan pelaku.
Situasi ini menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan seksual bagi anak-anak dan orang tua. Kesadaran ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.
Komunitas juga perlu berperan aktif dalam mendukung korban dengan memberikan ruang untuk berbicara dan mendapatkan bantuan psikologis yang diperlukan.
