Fenomena yang dikenal dengan nama sugar rush sangat akrab di telinga masyarakat. Namun, banyak yang belum memahami sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang, terutama anak-anak, mengonsumsi makanan manis.
Sugar rush merangkai gambaran di mana seseorang tiba-tiba menjadi penuh semangat dan energi setelah mengonsumsi produk bernutrisi tinggi gula, seperti permen, kue, atau cokelat. Dalam kenyataannya, fenomena ini lebih kompleks daripada sekadar lonjakan energi.
Menurut pendapat para ahli, istilah sugar rush juga dapat diartikan secara medis sebagai keadaan di mana kadar gula dalam darah meningkat tajam. Padahal, anggapan umum ini sering disalahartikan dan dicampuradukkan dengan perubahan perilaku yang terjadi pada anak setelah mengonsumsi makanan manis.
Meski banyak yang percaya bahwa gula dapat meningkatkan aktivitas anak, penelitian menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak selalu konsisten. Dengan kata lain, kesenangan dan kegembiraan yang dirasakan biasanya lebih terkait dengan suasana dan interaksi sosial di sekitar mereka.
Pemahaman yang Salah tentang Fenomena Sugar Rush
Banyak orang tua menganggap bahwa konsumsi makanan manis akan menyebabkan anak-anak mereka berenergi lebih tinggi. Namun, penelitian memberikan pandangan baru tentang hal ini. Sebuah studi meta analisis yang dilakukan pada tahun 2019 mengungkapkan bahwa sugar rush adalah rekaan belaka.
Hasil eksperimen terkontrol menunjukkan bahwa orang tua tidak mengidentifikasi pola aktivitas anak berdasarkan asupan gula mereka. Meski anak-anak tidak mengonsumsi makanan manis sekalipun, orang tua masih merasa anak-anak mereka lebih aktif hanya karena mereka berada di lingkungan yang meriah.
Dengan kata lain, kegembiraan yang dirasakan pada acara seperti pesta bukan semata-mata disebabkan oleh kadar gula, melainkan oleh suasana dan interaksi yang terjadi di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa sugar rush tidak dapat dijadikan patokan untuk memahami perubahan perilaku anak.
Argumentasi Ilmiah Mengenai Asupan Gula
Para ilmuwan sepakat bahwa banyaknya asupan gula harus diatur untuk menghindari dampak negatif bagi kesehatan. Ahli gizi merekomendasikan agar kalori yang berasal dari gula tidak melebihi 10% dari total kalori harian. Ini perlu menjadi perhatian bagi setiap individu, terutama orang tua.
Misalnya, untuk konsumsi kalori harian sekitar 2.000 kalori, maka batas aman gula yang boleh dikonsumsi adalah sekitar 50 gram atau sekitar 4 sendok makan. Pentingnya memahami limitasi ini agar lebih bijak dalam memilih camilan bagi anak-anak dan diri sendiri.
Kementerian Kesehatan juga mengeluarkan pedoman tentang berapa banyak asupan gula yang tepat. Untuk orang dewasa, disarankan maksimal mengonsumsi gula sebanyak 4 sendok makan dalam sehari dan ini juga berlaku bagi anak-anak namun dengan jumlah yang berbeda.
Rekomendasi Asupan Gula Berdasarkan Usia Anak
Setiap kelompok usia memiliki kebutuhan asupan gula yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk mengenali berapa banyak gula yang seharusnya dikonsumsi oleh anak-anak. Dalam panduan yang diberikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia, terdapat rekomendasi yang jelas terkait hal ini.
Sebagai contoh, anak-anak berusia 2 hingga 4 tahun disarankan untuk mengonsumsi gula sebanyak 15-16 gram. Sedangkan, untuk anak yang berusia 4 hingga 7 tahun, angka tersebut meningkat menjadi 18-20 gram. Ini terus berlanjut dengan petunjuk yang lebih tinggi seiring bertambahnya usia.
- 2 – 4 tahun : 15-16 gram
- 4 – 7 tahun : 18-20 gram
- 7 – 10 tahun: 22-23 gram
- 10-13 tahun: 24-27 gram
- 13-15 tahun: 27 – 32 gram
- 15-19 tahun: 28 – 37 gram
Rekomendasi ini bertujuan agar orang tua lebih teliti dalam mengawasi asupan gula anak. Memperhatikan jumlah gula yang dikonsumsi dapat berdampak positif terhadap kesehatan jangka panjang mereka.
Penting bagi masyarakat untuk memahami berbagai aspek mengenai konsumsi gula. Mengetahui informasi yang benar akan membantu dalam membuat keputusan yang bijak mengenai pola makan, terutama untuk anak-anak. Dengan cara ini, kita dapat mendorong kebiasaan makan yang lebih sehat.
