Musa Rajekshah, yang lebih dikenal dengan sebutan Ijeck, mengungkapkan rasa kecewa yang mendalam setelah keputusan Ketua Umum Partai Golkar mencabut jabatannya sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Utara. Meski awalnya terkejut dan merasa kehilangan, Ijeck berusaha untuk menerima keputusan tersebut setelah berdiskusi dengan beberapa kolega.
Perubahan mendalam ini membuatnya merenungkan berbagai aspek dari karir politiknya. Ia mengakui bahwa dalam dunia politik, situasi seperti ini adalah hal yang biasa, sehingga ia berusaha untuk tetap fokus dan tidak terjebak dalam rasa kekecewaan semata.
Sebagai sosok yang cukup berpengaruh, Ijeck merasa penting untuk tetap menjaga hubungan baik dengan rekan-rekannya dalam partai. Meskipun begitu, komunikasi dengan Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, menjadi titik penting dalam proses penerimaan keputusan tersebut.
Reaksi Awal Terhadap Pencopotan Jabatan
Saat mendengar kabar pencopotan dari posisinya, Ijeck mengaku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. “Awalnya terkejutlah, siapa yang tidak terkejut?” ujarnya ketika ditemui di Kantor DPP Partai Golkar. Ia merasa bahwa emosi manusiawi seperti kecewa merupakan hal yang wajar terjadi dalam situasi seperti ini.
Ijeck menggambarkan perasaannya saat mendengar keputusan itu, mengatakan, “Bohong kalau dibilang tidak terkejut, atau bahkan tidak kecewa.” Rasa kekecewaan tersebut, baginya, adalah respons alami yang muncul saat menghadapi kenyataan pahit dalam karir.
Namun, ia berusaha untuk melihat sisi positif dari situasi tersebut. Setelah berbincang dengan rekan-rekannya dan merenung, Ijeck memutuskan untuk menerima keadaan dan tidak terjebak dalam perasaan negatif.
Proses Penerimaan dan Komunikasi dengan Pimpinan
Meski belum menerima surat resmi mengenai pencopotannya, Ijeck menjelaskan bahwa ia telah berkomunikasi langsung dengan Bahlil. “Surat resmi juga saya belum terima. Tapi Ketua Umum sudah berkomunikasi dengan saya,” ungkapnya. Komunikasi yang baik dianggap penting untuk menjaga suasana harmonis dalam partai.
Dia menambahkan bahwa pengertian dan penerimaan terhadap keputusan Ketua Umum adalah langkah yang perlu diambil guna menjaga stabilitas di dalam partai. “Saya memaklumi dan saya menerima keputusan apapun yang diputuskan Ketua Umum,” tegasnya.
Dari percakapan tersebut, Ijeck dapat merasakan bahwa keputusan yang diambil adalah demi kebaikan partai secara keseluruhan. Hal inilah yang membuatnya semakin yakin untuk tidak mempertanyakan keputusan tersebut.
Surat Pemecatan dan Struktur Partai
Kepala DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, telah mengeluarkan surat pemecatan yang bernomor Skep-132/DPP/GOLKAR/XII/2025 pada 14 Desember 2025. Dalam surat tersebut, Bahlil menjelaskan alasan pencopotan Ijeck dari jabatan Ketua DPD Partai Golkar Sumut. Ini menunjukkan bahwa keputusan tersebut tidak diambil secara sembarangan.
Bahlil juga menunjuk Ahmad Doli Kurnia Tandjung sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Partai Golkar Sumut yang baru. Hal ini menunjukkan adanya proses transisi yang dilakukan untuk menjaga kelancaran dalam struktur organisasi partai.
Dalam surat tersebut tertulis, “Menunjuk dan mengesahkan Saudara Ahmad Doli Kurnia Tandjung untuk merangkap jabatan sebagai Pelaksana Tugas Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Sumatera Utara.” Keputusan ini mencerminkan adanya upaya untuk terus menguatkan posisi dan fungsi partai di wilayah Sumatera Utara.
Pemikiran tentang Masa Depan Politiknya
Meskipun mengalami penurunan jabatan, Ijeck tetap optimis melihat masa depannya dalam politik. Ia memahami bahwa dalam arena politik, setiap perubahan, baik positif maupun negatif, adalah bagian dari perjalanan karir. “Mau apa lagi? Kita terima,” kata Ijeck, menggambarkan kedewasaannya dalam menyikapi situasi ini.
Dari pengalaman ini, Ijeck berupaya untuk belajar agar dapat lebih baik di masa depan. Dia menyadari bahwa dalam politik, setiap individu perlu memiliki mental yang kuat dan kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.
Dengan memfokuskan perhatian pada pengembangan hubungan dan jaringan politiknya, Ijeck berani berharap untuk dapat kembali berkontribusi pada partai dan masyarakat di masa yang akan datang. Dia tetap berkomitmen untuk mendukung berbagai program dan inisiatif partai, meskipun tidak lagi memegang jabatan resmi.
