Di akhir tahun 2025, organisasi kesehatan dunia mengumumkan tujuh perkembangan terbaru dalam vaksinasi global. Laporan ini penting mengingat dampak besar vaksinasi terhadap kesehatan publik di berbagai negara, yang menunjukkan kemajuan serta tantangan yang masih dihadapi.
Pencapaian pertama mencakup penurunan kematian akibat campak sebesar 88% sejak tahun 2000. Hal ini menunjukkan efektivitas dari program imunisasi campak yang semakin luas di kalangan negara-negara, dengan 96 negara berhasil mencapai status eliminasi campak.
Namun, tidak semua negara menunjukkan kemajuan serupa. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan kasus campak yang berkaitan dengan menurunnya cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir, yang menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB), terutama di sejumlah daerah.
Kemajuan Vaksinasi Global: Sorotan Utama dari WHO
Pertama-tama, WHO melaporkan perkembangan signifikan dalam upaya pemberian vaksin. Vaksin campak adalah contoh nyata bagaimana program imunisasi yang efektif dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah wabah penyakit.
Secara global, vaksinasi campak telah dikenal luas sebagai cara efisien untuk mengendalikan penyebaran virus. Dengan hampir seratus negara mencapai eliminasi, ini cukup menggembirakan meskipun tantangan tetap ada.
Namun, belakangan ini, peningkatan kasus di beberapa negara menunjukkan bahwa kerja keras masih diperlukan. Komitmen untuk meningkatkan cakupan imunisasi yang mungkin berkurang akibat pandemi menjadi sangat penting dalam periode ini.
Vaksin Malaria: Langkah Besar bagi Negara Berkembang
Pembangunan vaksin malaria menjadi sorotan kedua dalam laporan WHO. Tahun 2025 menandai peluncuran vaksin malaria, yang akan diadopsi oleh 24 negara di Afrika dalam program imunisasi nasional mereka.
Penguatan program imunisasi malaria ini merupakan bagian dari strategi komprehensif melawan penyakit tersebut. Ini mencakup penanganan kasus, pengendalian vektor, dan pemberian kemoprofilaksis bagi populasi berisiko tinggi.
Di wilayah Indonesia, tantangan malaria masih signifikan, terutama di Papua dan wilayah timur lainnya. Pengembangan dan penyebaran vaksinasi malaria diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengendalian penyakit ini.
Upaya Penelitian Vaksin Tuberkulosis yang Lebih Efektif
Penelitian untuk menciptakan vaksin tuberkulosis baru menjadi fokus utama ketiga. Vaksin BCG yang sekarang digunakan sudah berusia lebih dari satu abad dan memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk menjadi lebih efektif.
Hasil laporan WHO pada November 2025 tentang kemajuan penelitian vaksin tuberkulosis memberikan harapan baru, terutama bagi negara-negara dengan angka kasus tinggi. Indonesia sendiri merupakan penyumbang terbesar kedua untuk kasus tuberkulosis global.
Perkembangan vaksin baru ini diharapkan dapat memberikan solusi dalam mengatasi masalah tuberkulosis. Dengan mortalitas yang masih tinggi, penerapan vaksin yang lebih efektif akan sangat bermanfaat bagi masyarakat.
Upaya Global Melawan Meningitis untuk Masa Depan yang Lebih Sehat
Pemberian vaksin meningitis juga menjadi salah satu langkah terbaru dalam kebijakan kesehatan global. Vaksinasi terhadap streptokokus grup B menjadi perhatian penting, terutama untuk melindungi ibu dan bayi baru lahir.
Selaras dengan peta jalan global, “Defeating Meningitis by 2030,” WHO menginisiasi berbagai langkah untuk memerangi penyakit meningitis. Upaya ini harus mendapatkan dukungan dari semua negara untuk menjamin akses vaksin yang lebih besar.
Kegiatan penyuluhan dan pendidikan kesehatan juga harus dilembagakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya vaksinasi. Masyarakat yang teredukasi dengan baik akan lebih memahami dan mendukung program vaksinasi ini.
